THE EDGE OF REASON

Terbangun pagi ini dengan satu ketukan dan sapaan di pintu, "Nik…?" Tersadar, berusaha mengumpulkan tenaga. Aku tidak berada di kamarku. Berusaha mengingat kembali kemarin malam. Ah, ya, aku memang tidak tidur di kamar.

Sudah berhari-hari seperti ini. Tidur dengan kelelahan, bangun pun dengan kelelahan. Hati sudah lelah bertanya pada Tuhan: sampai kapan… Tapi, memang KASIH tidak dapat ditolak. Tuhan sudah telanjur menanamkan itu dalam hatiku. Susah senang dijalani hanya karena KASIH, berawal dari kasih terbesar yang aku nikmati beberapa tahun yang lalu.

Hari ini aku hadapi dengan senyuman dan sukacita. Aku tidak mau mengeluh lagi. Sudah cukup! Aku akan meninggalkan mentalitas payah yang selama ini aku idap. Selamat datang, hari-hari baruku. Aku percaya ada pembelaan yang memuaskan atas semua ini. Suatu hari nanti dan aku tidak perlu tahu kapan.

Bodohnya aku! Sebetulnya di dunia ini, terlalu banyak hal yang sanggup membuatku bahagia dan tertawa senang. Tapi kelelahanku membuat aku buta. Buta dan tak melihat betapa kuat dan setianya Allah selama ini menjagaku. Aku lelah, aku sedih, tapi tak pernah aku dibiarkanNya jatuh.

Sore ini, aku berjalan dengan pink gadget kesayanganku, berjalan beberapa meter menyedot uang di ATM sambil berharap: Tuhan, cukupkanlah uangku untuk bulan ini. Sepanjang perjalanan, aku bertemu orang-orang yang mengenalku. Aku menyapa mereka sambil tersenyum. Aku senang. Ya, aku senang. Sudah sepantasnya aku senang. God has been GOOD to me!

In any circumstances, God is good…

Just believe it.

One Response to “THE EDGE OF REASON”

  1. Sylvia Says:

    yups, just believe it..^^

Leave a Reply