Kemiskinan Struktural
Kemiskinan struktural…
Kata-kata
ini sudah berkali-kali terucap dari mulut Edwin. Berkali-kali, sampai aku
terkadang bosan dan muak. Tetapi, itulah faktanya. Tidak semua orang bisa makan
tiga kali sehari seperti keharusan manusia yang kehidupannya normal. Tidak
semua orang bisa beli pulsa, walaupun ini tidak selalu sebuah hal yang patut
diperjuangkan. Di Indonesia ini, sebagian besar masyarakatnya tiap hari sering
memusingkan urusan perut dan kelangsungan hidup karena memang tidak ada jaminan
hidup buat mereka.
Aku dan
teman-teman mahasiswa yang lain bukanlah sekelompok orang yang beruntung. Kami
adalah sekelompok orang yang sangat sangat sangat sangat beruntung! Benar,
sangat sangat beruntung karena dalam kondisi masyarakat seperti ini setidaknya
setiap hari tidak dipusingkan dengan masalah makan gak makan. Beruntung karena
masih bisa menerima pengajaran dan pendidikan dengan demikian bagus. Dan
bodohnya, sebagian besar dari kami sering mengeluhkan urusan kuliah. Malas lah,
suntuk lah, lelah lah. Lupa kalau di luar sana masih ada yang makan nasi aking.
Orang-orang
yang kurang kuat imannya, langsung menghakimi Tuhan sebagai penyebab semua ini.
Salah satu temanku bahkan bertanya: “Tuhan tahu kalau orang miskin itu bisa
bahagia dengan makan tiga kali sehari, tapi kenapa Tuhan sering gak kasi orang
itu makan? Gw gak ngerti hal itu.” Well, pikiran manusia memang terlalu bodoh
untuk menganalisa fenomena seperti itu. Karena tidak tahu lagi harus berbuat
apa, hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah menyalahkan Tuhan. Jadi,
pantaskah Tuhan dipersalahkan?
Coba kita
berpikir bodoh. Kalau Tuhan mau semua manusia bahagia, kenapa ada orang miskin,
dan ada orang kaya? Kalau Tuhan mau setiap manusia menuruti kehendakNya, kenapa
ada perampok, pembunuh, koruptor, dan pelacur? Inti pertanyaannya, kenapa Tuhan
tidak membentuk manusia sesuai dengan apa yang Dia mau? Toh, itu akan membuat
kehidupan manusia lebih baik kan? Sederhana bukan?
Sekarang,
mari kita berpikir pintar dengan menggunakan rasio dan iman kita secara
bersamaan. Pertanyaan pertama, siapa yang menciptakan kita? Jawabannya, Tuhan.
Kalau kita merasa diri kita pintar, maka yang menciptakan tentu jauh lebih
pintar. Kalau kita merasa bodoh, yang menciptakan tetap lebih pintar. Jadi,
bisakah kita menghakimi kejadian yang terjadi di sekitar kita seolah-olah kita
sedang melihat dari kacamata Tuhan? Coba ingat kembali cerita seorang cucu yang
sedang menemani neneknya menenun.
Si cucu
yang masih kecil itu mengamati hasil tenunan neneknya dari bawah. Dari bawah,
yang terlihat hanyalah kumpulan benang yang saling silang tidak keruan. Sekilas
terlihat seperti benang kusut. Si cucu heran melihat neneknya yang begitu tekun
mengerjakan tenunan itu. Setelah ditunggu selama beberapa jam, hasil yang
dilihat si cucu tetap buruk dan tidak ada sisi keindahan di dalamnya. Karena tidak sabar, si cucu bertanya,
“Nek, sebetulnya apa sih yang Nenek kerjakan dari tadi?”
“Nenek
sedang menenun sebuah gambar yang indah. Kamu pasti akan takjub melihatnya..”
jawab si nenek sambil tersenyum.
“Mana
indahnya, Nek? Dari tadi aku amati, yang Nenek kerjakan hanyalah sekumpulan
benang kusut. Tidak ada indah-indahnya, Nek!” protes si cucu.
“Jika kamu
mau menunggu sedikit lagi, Nenek akan menunjukkan sebuah gambar yang indah..”
Si nenek
menepati janjinya. Beberapa saat kemudian, ia menurunkan tenunannya sehingga
cucunya bisa melihat gambar tenunan itu dengan jelas. Ternyata benar, nenek
telah menenun sebuah gambar yang indah. Sebuah pemandangan dari padang rumput
yang mengagumkan. Si cucu hanya bisa terpana tanpa kata-kata menatapnya. Ia
tidak percaya kalau benang kusut yang ia lihat ternyata adalah sebuah gambar
yang sangat indah.
Begitulah
yang terjadi antara kehidupan manusia dengan Tuhan. Tuhan hanya meminta manusia
untuk menunggu dan mengimani. Tetapi, terkadang manusia begitu kritis sehingga
mencoba menganalisis segala fenomena yang terjadi tanpa iman seperti yang
diminta Tuhan. Kemiskinan dan semua masalah yang sedang melanda bangsa kita
terjadi karena dua hal.
Pertama,
semua itu karena kesalahan kita. Manusia Indonesia adalah manusia yang bodoh
dan tidak tahu terima kasih. Bayangkan, kurang sempurna apa sumber daya yang
diberikan Tuhan kepada kita? Wilayah yang begitu luas. Indonesia mengklaim
dirinya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Profil geografisnya sangat
lengkap dengan adanya hamparan pantai dan pegunungan, ditambah letaknya di tengah
khatulistiwa dimana sinar matahari begitu melimpah. Sumber daya manusianya juga
terdaftar dalam peringkat lima besar di dunia, tentu bisa menjadi sumber
produksi yang besar bagi perekonomian negara. Namun, apa yang terjadi? Semua
itu dipandang sebagai kekayaan yang pantas dihamburkan.
Anggap saja
kita bangsa Israel yang kedua. Disayang dan dimanja, namun justru menyakiti
hati Tuhan. Bangsa sendiri saling membunuh dan membenci. Uang yang bukan
miliknya dikorupsi hingga saudara sebangsa banyak yang tidak bisa makan.
Fasilitas umum milik bersama dirusak dan digunakan seakan-akan milik pribadi.
Sedih melihat kenyataan itu. Kalau begitu, salah siapa kalau sekarang Indonesia
miskin? Salah siapa kalau televisi kita menghadirkan program-program yang
mengeksploitasi kemiskinan? Masih menganggap itu salah Tuhan?
Memang
Tuhan itu siapa? Pribadi yang bisa kita perintah? Bisa kita suruh memperbaiki
kehancuran yang kita ciptakan sendiri? Egois! Kedua, miskin dan kaya ada supaya
setiap manusia bisa belajar menjadi makhluk yang lebih baik. Kalau semua orang
kaya dan makmur, apakah akan ada lagi yang disebut sebagai kebaikan? Tentu
tidak ada, karena setiap manusia bisa membantu dirinya sendiri. Tidak ada yang
butuh orang lain. Tidak ada lagi saling melayani. Kalau semua orang miskin,
jangan harap lagi ada orang yang membantu orang lain karena membantu dirinya
sendiri saja tidak sanggup.
Aku tidak
berbicara soal materi. Dalam beberapa hal, orang kaya seharusnya mengharapkan
bantuan dari orang miskin. Dalam banyak hal, orang miskin lebih kaya
dibandingkan orang kaya. Misalnya, kalau mau bertanya soal nilai sesuap nasi,
jangan tanya pada anak-anak yang lahir di Pondok Indah. Coba pergi ke sekitar
Tanah Abang dan tanyakan pada anak-anak yang berkeliaran di sana. Orang miskin
punya perhargaan, pertahanan diri, dan cara pandang yang tinggi terhadap banyak
hal. Orang-orang filsafat seharusnya berguru pada mereka. Intinya, orang miskin
dipakai Tuhan untuk mengajari manusia lain mengenai arti kehidupan.
Kalau
sekarang kita merasa sedih ketika melihat berita kemiskinan di televisi,
bersyukurlah karena keberadaan mereka telah mengajari kita untuk mengenal kata
empati. Jika lalu kita merasa harus melakukan sesuatu untuk mereka,
bersyukurlah karena kemiskinan mereka telah memberikan ruang dan waktu bagi
kita untuk mengaplikasikan apa yang telah Tuhan ajarkan pada kita. Jadi, jangan
mengutuki Tuhan karena telah mengijinkan mereka mengalami kemiskinan. Kalau
kita mau terbebas dari berita-berita kemiskinan di kanan dan kiri kita, berhenti
menyalahkan Tuhan dan justru seharusnya kita berdoa supaya diberi kesempatan
untuk bisa membantu mereka.
Kehidupan
ini adalah sebuah rantai yang panjang dan saling terhubung dengan luar biasa di
tangan Tuhan. Setiap hal, bahkan sekecil daun yang gugur dari rantingnya,
terjadi karena suatu alasan. Hal itu terjadi supaya hal lain dimungkinkan untuk
terjadi, begitu selanjutnya. Kemiskinan terjadi bukan karena Tuhan sedang iseng
menguji atau menyiksa sekelompok orang. Kemiskinan struktural memerlukan hikmat
yang besar dari Tuhan supaya kita bisa memahaminya dan kemudian menemukan titik
terang dari masalah itu. Hanyalah bagi Tuhan segala hormat dan kemuliaan. Soli
Deo Gloria!
December 11th, 2007 at 6:56 am
wew Tik, tajam.. tulisan yg sangat baik. thanks ya.. ^^
akhir-akhir ini banyak temen-temen mpi yg atheis terus menerus mempertanyakan ini..
>