THE EDGE OF REASON

December 5th, 2007 by unique777wildsista

Terbangun pagi ini dengan satu ketukan dan sapaan di pintu, "Nik…?" Tersadar, berusaha mengumpulkan tenaga. Aku tidak berada di kamarku. Berusaha mengingat kembali kemarin malam. Ah, ya, aku memang tidak tidur di kamar.

Sudah berhari-hari seperti ini. Tidur dengan kelelahan, bangun pun dengan kelelahan. Hati sudah lelah bertanya pada Tuhan: sampai kapan… Tapi, memang KASIH tidak dapat ditolak. Tuhan sudah telanjur menanamkan itu dalam hatiku. Susah senang dijalani hanya karena KASIH, berawal dari kasih terbesar yang aku nikmati beberapa tahun yang lalu.

Hari ini aku hadapi dengan senyuman dan sukacita. Aku tidak mau mengeluh lagi. Sudah cukup! Aku akan meninggalkan mentalitas payah yang selama ini aku idap. Selamat datang, hari-hari baruku. Aku percaya ada pembelaan yang memuaskan atas semua ini. Suatu hari nanti dan aku tidak perlu tahu kapan.

Bodohnya aku! Sebetulnya di dunia ini, terlalu banyak hal yang sanggup membuatku bahagia dan tertawa senang. Tapi kelelahanku membuat aku buta. Buta dan tak melihat betapa kuat dan setianya Allah selama ini menjagaku. Aku lelah, aku sedih, tapi tak pernah aku dibiarkanNya jatuh.

Sore ini, aku berjalan dengan pink gadget kesayanganku, berjalan beberapa meter menyedot uang di ATM sambil berharap: Tuhan, cukupkanlah uangku untuk bulan ini. Sepanjang perjalanan, aku bertemu orang-orang yang mengenalku. Aku menyapa mereka sambil tersenyum. Aku senang. Ya, aku senang. Sudah sepantasnya aku senang. God has been GOOD to me!

In any circumstances, God is good…

Just believe it.

Kemiskinan Struktural

December 3rd, 2007 by unique777wildsista

Kemiskinan struktural…

 Kata-kata
ini sudah berkali-kali terucap dari mulut Edwin. Berkali-kali, sampai aku
terkadang bosan dan muak. Tetapi, itulah faktanya. Tidak semua orang bisa makan
tiga kali sehari seperti keharusan manusia yang kehidupannya normal. Tidak
semua orang bisa beli pulsa, walaupun ini tidak selalu sebuah hal yang patut
diperjuangkan. Di Indonesia ini, sebagian besar masyarakatnya tiap hari sering
memusingkan urusan perut dan kelangsungan hidup karena memang tidak ada jaminan
hidup buat mereka.

 Aku dan
teman-teman mahasiswa yang lain bukanlah sekelompok orang yang beruntung. Kami
adalah sekelompok orang yang sangat sangat sangat sangat beruntung! Benar,
sangat sangat beruntung karena dalam kondisi masyarakat seperti ini setidaknya
setiap hari tidak dipusingkan dengan masalah makan gak makan. Beruntung karena
masih bisa menerima pengajaran dan pendidikan dengan demikian bagus. Dan
bodohnya, sebagian besar dari kami sering mengeluhkan urusan kuliah. Malas lah,
suntuk lah, lelah lah. Lupa kalau di luar sana masih ada yang makan nasi aking.

 Orang-orang
yang kurang kuat imannya, langsung menghakimi Tuhan sebagai penyebab semua ini.
Salah satu temanku bahkan bertanya: “Tuhan tahu kalau orang miskin itu bisa
bahagia dengan makan tiga kali sehari, tapi kenapa Tuhan sering gak kasi orang
itu makan? Gw gak ngerti hal itu.” Well, pikiran manusia memang terlalu bodoh
untuk menganalisa fenomena seperti itu. Karena tidak tahu lagi harus berbuat
apa, hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah menyalahkan Tuhan. Jadi,
pantaskah Tuhan dipersalahkan?

 Coba kita
berpikir bodoh. Kalau Tuhan mau semua manusia bahagia, kenapa ada orang miskin,
dan ada orang kaya? Kalau Tuhan mau setiap manusia menuruti kehendakNya, kenapa
ada perampok, pembunuh, koruptor, dan pelacur? Inti pertanyaannya, kenapa Tuhan
tidak membentuk manusia sesuai dengan apa yang Dia mau? Toh, itu akan membuat
kehidupan manusia lebih baik kan? Sederhana bukan?

 Sekarang,
mari kita berpikir pintar dengan menggunakan rasio dan iman kita secara
bersamaan. Pertanyaan pertama, siapa yang menciptakan kita? Jawabannya, Tuhan.
Kalau kita merasa diri kita pintar, maka yang menciptakan tentu jauh lebih
pintar. Kalau kita merasa bodoh, yang menciptakan tetap lebih pintar. Jadi,
bisakah kita menghakimi kejadian yang terjadi di sekitar kita seolah-olah kita
sedang melihat dari kacamata Tuhan? Coba ingat kembali cerita seorang cucu yang
sedang menemani neneknya menenun.

 Si cucu
yang masih kecil itu mengamati hasil tenunan neneknya dari bawah. Dari bawah,
yang terlihat hanyalah kumpulan benang yang saling silang tidak keruan. Sekilas
terlihat seperti benang kusut. Si cucu heran melihat neneknya yang begitu tekun
mengerjakan tenunan itu. Setelah ditunggu selama beberapa jam, hasil yang
dilihat si cucu tetap buruk dan tidak ada sisi keindahan di dalamnya.  Karena tidak sabar, si cucu bertanya,
“Nek, sebetulnya apa sih yang Nenek kerjakan dari tadi?”

 “Nenek
sedang menenun sebuah gambar yang indah. Kamu pasti akan takjub melihatnya..”
jawab si nenek sambil tersenyum.

 “Mana
indahnya, Nek? Dari tadi aku amati, yang Nenek kerjakan hanyalah sekumpulan
benang kusut. Tidak ada indah-indahnya, Nek!” protes si cucu.

 “Jika kamu
mau menunggu sedikit lagi, Nenek akan menunjukkan sebuah gambar yang indah..”

 Si nenek
menepati janjinya. Beberapa saat kemudian, ia menurunkan tenunannya sehingga
cucunya bisa melihat gambar tenunan itu dengan jelas. Ternyata benar, nenek
telah menenun sebuah gambar yang indah. Sebuah pemandangan dari padang rumput
yang mengagumkan. Si cucu hanya bisa terpana tanpa kata-kata menatapnya. Ia
tidak percaya kalau benang kusut yang ia lihat ternyata adalah sebuah gambar
yang sangat indah.

 Begitulah
yang terjadi antara kehidupan manusia dengan Tuhan. Tuhan hanya meminta manusia
untuk menunggu dan mengimani. Tetapi, terkadang manusia begitu kritis sehingga
mencoba menganalisis segala fenomena yang terjadi tanpa iman seperti yang
diminta Tuhan. Kemiskinan dan semua masalah yang sedang melanda bangsa kita
terjadi karena dua hal.

 Pertama,
semua itu karena kesalahan kita. Manusia Indonesia adalah manusia yang bodoh
dan tidak tahu terima kasih. Bayangkan, kurang sempurna apa sumber daya yang
diberikan Tuhan kepada kita? Wilayah yang begitu luas. Indonesia mengklaim
dirinya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Profil geografisnya sangat
lengkap dengan adanya hamparan pantai dan pegunungan, ditambah letaknya di tengah
khatulistiwa dimana sinar matahari begitu melimpah. Sumber daya manusianya juga
terdaftar dalam peringkat lima besar di dunia, tentu bisa menjadi sumber
produksi yang besar bagi perekonomian negara. Namun, apa yang terjadi? Semua
itu dipandang sebagai kekayaan yang pantas dihamburkan.

 Anggap saja
kita bangsa Israel yang kedua. Disayang dan dimanja, namun justru menyakiti
hati Tuhan. Bangsa sendiri saling membunuh dan membenci. Uang yang bukan
miliknya dikorupsi hingga saudara sebangsa banyak yang tidak bisa makan.
Fasilitas umum milik bersama dirusak dan digunakan seakan-akan milik pribadi.
Sedih melihat kenyataan itu. Kalau begitu, salah siapa kalau sekarang Indonesia
miskin? Salah siapa kalau televisi kita menghadirkan program-program yang
mengeksploitasi kemiskinan? Masih menganggap itu salah Tuhan?

 Memang
Tuhan itu siapa? Pribadi yang bisa kita perintah? Bisa kita suruh memperbaiki
kehancuran yang kita ciptakan sendiri? Egois! Kedua, miskin dan kaya ada supaya
setiap manusia bisa belajar menjadi makhluk yang lebih baik. Kalau semua orang
kaya dan makmur, apakah akan ada lagi yang disebut sebagai kebaikan? Tentu
tidak ada, karena setiap manusia bisa membantu dirinya sendiri. Tidak ada yang
butuh orang lain. Tidak ada lagi saling melayani. Kalau semua orang miskin,
jangan harap lagi ada orang yang membantu orang lain karena membantu dirinya
sendiri saja tidak sanggup.

 Aku tidak
berbicara soal materi. Dalam beberapa hal, orang kaya seharusnya mengharapkan
bantuan dari orang miskin. Dalam banyak hal, orang miskin lebih kaya
dibandingkan orang kaya. Misalnya, kalau mau bertanya soal nilai sesuap nasi,
jangan tanya pada anak-anak yang lahir di Pondok Indah. Coba pergi ke sekitar
Tanah Abang dan tanyakan pada anak-anak yang berkeliaran di sana. Orang miskin
punya perhargaan, pertahanan diri, dan cara pandang yang tinggi terhadap banyak
hal. Orang-orang filsafat seharusnya berguru pada mereka. Intinya, orang miskin
dipakai Tuhan untuk mengajari manusia lain mengenai arti kehidupan.

 Kalau
sekarang kita merasa sedih ketika melihat berita kemiskinan di televisi,
bersyukurlah karena keberadaan mereka telah mengajari kita untuk mengenal kata
empati. Jika lalu kita merasa harus melakukan sesuatu untuk mereka,
bersyukurlah karena kemiskinan mereka telah memberikan ruang dan waktu bagi
kita untuk mengaplikasikan apa yang telah Tuhan ajarkan pada kita. Jadi, jangan
mengutuki Tuhan karena telah mengijinkan mereka mengalami kemiskinan. Kalau
kita mau terbebas dari berita-berita kemiskinan di kanan dan kiri kita, berhenti
menyalahkan Tuhan dan justru seharusnya kita berdoa supaya diberi kesempatan
untuk bisa membantu mereka.

 Kehidupan
ini adalah sebuah rantai yang panjang dan saling terhubung dengan luar biasa di
tangan Tuhan. Setiap hal, bahkan sekecil daun yang gugur dari rantingnya,
terjadi karena suatu alasan. Hal itu terjadi supaya hal lain dimungkinkan untuk
terjadi, begitu selanjutnya. Kemiskinan terjadi bukan karena Tuhan sedang iseng
menguji atau menyiksa sekelompok orang. Kemiskinan struktural memerlukan hikmat
yang besar dari Tuhan supaya kita bisa memahaminya dan kemudian menemukan titik
terang dari masalah itu. Hanyalah bagi Tuhan segala hormat dan kemuliaan. Soli
Deo Gloria!

 

  

Ketika Indonesia Tanpa Cukai Rokok

June 29th, 2007 by unique777wildsista

Ini artikel tentang cukai dan rokok yang gw tulis dengan seorang teman dalam rangka Hari Tanpa Tembakau beberapa waktu yang lalu… Hope this will inspire…

KETIKA INDONESIA TANPA CUKAI ROKOK

Oleh: Eunika R. dan Timoteus S.

Dunia
tanpa rokok. Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar hal tersebut? Tidak
mungkin? Hanya sekadar wacana? Atau hanya sebuah pikiran yang utopis? Tunggu
dulu, mari kita tanyakan pada diri kita. Hal terbesar yang menghalangi
terwujudnya dunia tanpa rokok adalah KETAKUTAN kita. Orang-orang realis akan
mengatakan bahwa rokok menyumbang terlalu banyak bagi perekonomian dunia. Dan
karena alasan itu, kata mereka, menghapus rokok dari sejarah kehidupan manusia
berarti membuat dunia semakin terpuruk dalam krisis perekonomian. Pertanyaannya,
perekonomian siapa?

Cukai
Rokok yang Menggiurkan

Bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi bahwa Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia sangat bergantung pada sektor
pajak, termasuk cukai.
Selama
ini,
cukai rokok telah
menjadi salah satu penjamin APBN bertahan. Tidak kurang dari Rp 29,1 triliun setiap tahun
Ja
wa
T
imur
(Jatim)
menyumbangkan
hasil cukai rokoknya ke APBN.[1]
 Dari ratusan industri rokok di daerah Kudus,
PT Djarum merupakan salah satu perusahaan rokok kretek yang mampu memberikan
cukai terbesar bagi negara senilai Rp 17,4 miliar per hari,
dengan total produksi 126 juta batang perhari.[2]

Besarnya cukai rokok tersebut
memang memberikan beberapa keuntungan bagi perekonomian negara. Pertama, cukai
rokok yang besar ini menjadi sumber dana APBN untuk membiayai kebutuhan
masyarakat, baik dalam penyediaan barang publik seperti infrastruktur maupun
pelayanan publik, misalnya dana operasional institusi pemerintah. Kedua,
ketergantungan APBN pemerintah terhadap cukai rokok mendorong industri rokok
untuk tetap bertahan, bahkan seolah-olah diupayakan untuk semakin membesar.
Dengan demikian, secara tidak langsung industri rokok yang padat karya ini
menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup besar bagi Indonesia yang terjerat
dengan masalah pengangguran.

Contohnya, di Jatim. Selain untuk produksi
dalam negeri, Jatim merupakan penghasil tembakau untuk ekspor, khususnya ke
Bremen (Jerman).
Setiap
tahun sekitar 200.000 hektar areal lahan digunakan untuk menanam tembakau
. Jika satu hektar melibatkan lima tenaga kerja,
satu juta orang terlibat langsung dalam
produksi tembakau.
 Belum lagi jumlah tenaga
kerja yang terlibat di pabrik rokok. Sedikitnya ada empat pabrik rokok besar dari 1.137 perusahaan di Jatim, yaitu
Gudang Garam, Sampoerna, Wismilak, dan Bentoel. Tiap perusahaan ini melibatkan sedikitnya 1.000 tenaga buruh linting.[3]

Selain memberikan kesempatan
kerja bagi sumber daya manusia Indonesia yang melimpah, industri rokok sering
terlibat dengan pemberian dana sosial dan kemanusiaan. Pemberian dana ini
dianggap bagian dari Corporate Sosial
Responsibility
(CSR). Dengan menggunakan bendera CSR, setiap dana yang
dikucurkan, misalnya untuk beasiswa pendidikan, dipandang sebagai kebaikan hati
para produsen rokok yang peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Namun, ada pula
pendapat yang mengatakan bahwa pemberian dana ini hanyalah bentuk sogokan atau
ganti rugi terhadap dampak buruk rokok bagi kesehatan dan lingkungan.

Dari keuntungan yang telah
dijabarkan di atas, cukai rokok sepertinya memang memiliki peran yang
signifikan bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Namun, hal ini
membuat fungsi cukai rokok bergeser dari tempatnya semula. F
ilosofinya, cukai hanya memiliki fungsi regulerend pajak yaitu untuk menghalangi atau mengurangi dan
mengawasi penggunaan objek cukai secara bebas.
Intinya, dapat dikatakan bahwa fungsi cukai adalah membatasi
dan mengurangi konsumsi barang yang berdampak negatif secara sosial yaitu salah
satunya bahaya rokok.

Pemerintah,
baik pusat maupun daerah, memang menunjukan usahanya untuk menegakkan fungsi regulerend itu. Contohnya p
ada tahun 2006 pemerintah
telah berencana mengenakan tarif cukai rokok spesifik sesuai golongan pabrikan
dan menaikan Harga Jual Eceran
(HJE) rokok sebesar 7%. Produk hukum positifnya adalah Kebijakan cukai terbaru
tersebut dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor
118/PMK.04/2006 yang ditandatangani pada 1 Desember 2006. Kebijakan HJE berlaku
efektif pada 1 Maret 2007.
Dukungan
serupa untuk mengurangi perilaku merokok dalam ranah publik dilakukan pula oleh
Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Seharusnya dengan Perda ini, setiap tempat umum
dilengkapi dengan fasilitas area merokok. Jika suatu tempat tidak dilengkapi
dengan fasilitas ini diasumsikan tempat tersebut adalah area bebas rokok.

Akan
tetapi, tampaknya kedua peraturan tersebut salah tujuan. Peningkatan tarif
cukai rokok malah semakin mengukuhkan kebergantungan APBN terhadap cukai rokok.
Naiknya tarif cukai rokok berarti pendapatan yang masuk ke APBN semakin besar,
dan ironisnya pemerintah belum siap kehilangan hal ini bila produksi rokok
semakin menurun, atau bahkan ditiadakan. Seharusnya peningkatan tarif cukai
rokok yang bertujuan mengurangi produksi dan konsumsi rokok diimbangi dengan
usaha peningkatan sumber pendapatan dari sektor lain. Misalnya, yang paling
potensial adalah sektor minyak bumi dan gas alam (migas). Namun, kecenderungan
yang dilakukan oleh pemerintah setiap kali menemukan sumber migas baru adalah
menawarkannya kepada pihak asing, seperti yang baru-baru ini terjadi dengan
Blok Cepu. Ketidaktegasan pemerintah juga dibuktikan dengan lunaknya
pelaksanaan Perda tentang larangan merokok di DKI Jakarta.

Harga yang Harus Dibayar Masyarakat

Di sisi lain, rokok juga
memberikan kerugian ekonomi bagi masyarakat. Di Indonesia diperkirakan sekitar
70 juta orang atau 30% dari total jumlah penduduknya perokok. Kalau mereka
rata-rata mengonsumsi sebungkus sehari, berarti uang yang dibakar Rp 500 miliar
setiap hari. Jika perokok yang hidup di bawah garis kemiskinan 7 juta orang,
setiap hari uang yang dibakar Rp 50 miliar,[4]
Data Bank Dunia (1990) menyebutkan saat cukai rokok yang diterima Pemerintah
Indonesia Rp 2,6 triliun, kerugian ekonomi akibat rokok yang harus ditanggung
rakyat Rp 14,5 triliun.

Dari data tersebut, kita dapat
melihat bahwa yang menanggung kerugian ekonomi ini adalah masyarakat. Jika
memakai paradigma Marxist, masyarakat perokok adalah kelas proletar yang
‘bekerja’ untuk kaum borjuis, yaitu pengusaha rokok dan pemerintah. Seolah-olah
masyarakat perokok adalah pemegang kepentingan utama dalam urusan rokok ini,
padahal merekalah yang dirugikan dan sekaligus membayar untuk kerugian
tersebut. Mereka adalah mesin uang bagi kaum borjuis yang terus-menerus
menanamkan kesadaran palsu bahwa rokok menunjukkan gaya hidup sebagai
masyarakat modern. Seringkali ketika dipertanyakan tentang dampak buruk merokok
bagi kesehatan, para perokok akan menjawab: “Toh, semua orang akan mati. Jadi,
mati karena kanker akibat rokok ya sama saja.” Nah, itu juga bagian dari
kesadaran palsu yang ditanamkan oleh kaum borjuis.

 

Selain
membayar untuk biaya konsumsi rokok, masyarakat perokok itu pula yang harus
membayar untuk biaya kesehatan akibat rokok itu. Pemerintah hanya mengeluarkan
Rp 1,7 triliun untuk sektor kesehatan dan sebagian besar biaya kesehatan
perokok harus ditanggung masyarakat. Kalau penderita dirawat di rumah sakit
pemerintah, yang bersangkutan menerima subsidi kesehatan dari pajak masyarakat
yang sebagian bukan perokok. Biaya kesehatan yang dikeluarkan akibat rokok
hampir enam kali lipat penerimaan negara dari cukai rokok. Jadi benar pendapat
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia bahwa industri rokok menjadi gantungan hidup
jutaan manusia adalah mitos, Hal ini dikemukakan oleh Prof dokter Suradi Sp
P(K), Guru Besar Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
UNS.

 

IndonesiaTanpa
Rokok: Utopiskah?

 

Jadi,
apa jawaban dari pertanyaan yang telah dilontarkan pada awal artikel ini:
perekonomian siapa yang diuntungkan oleh rokok? Jelas bukan perekonomian
masyarakat perokok, apalagi masyarakat non perokok. Jadi kebergantungan perekonomian Negara
terhadap industri rokok  adalah
kebergantungan yang dibuat-buat atau dengan sengaja dilanggengkan oleh pihak
tertentu. Indonesia tanpa rokok bukanlah sebuah Negara utopis.

 

Tidak ada seorang bapa yang memberikan ular saat anaknya minta ular untuk
dimakan? Masakan seorang ibu dengan lega hati memberikan kalajengking saat
anaknya lapar dan merengek-rengek meminta kalajengking untuk dimakan? Tentunya
orang tua tidak memberikan ular atau kalajengking dimakan anaknya tetapi
memberikan roti atau nasi dan ikan untuk dimakan anaknya.

Demikian juga dengan pemerintah yang berperan
sebagai wakil Allah bagi masyarakatnya, pemerintah tahu dengan jelas apa
kerugian yang dihasilkan oleh rokok baik dalam hal kesehatan maupun ekonomi.
Pemerintah sebagai figure orang tua pun harusnya memakai pikiran dan
otoritasnya untuk memberikan yang terbaik dan yang menjadi kebutuhan
masyarakat. Dan, rokok jelas BUKAN kebutuhan masyarakat!

“Cigarette is a long
stick with a burning edge and a fool on the other side. Are you that fool?”


[1] www.kompas.com. Mohammad Bakir. Tetap
Bertahan dengan Agro
. Selasa, 20 Desember 2005

[2] www.pikiranrakyat.com. Cukai
dari Rokok Tetap Menggiurkan Kas Negara
. Senin, 18 September 2006.

[3]
Ibid.

[4]
www.klikpajak.com.
Rp 150 Triliun Dibakar Tiap Tahun. 12 Maret 2007.

 

shock after “Gigi”

June 29th, 2007 by unique777wildsista

29.06.07, 20.09

Abis nonton “Gigi” (Vincente Minelli, 1958)… Film yang bagus dan menghibur,
highly recommended… Tapi setelah laptop gw mati, gw merasa sepi, bengong… Gw
berpikir, apakah memang dunia seindah dan sesederhana itu… Apakah suatu hari
nanti PASTI ada seorang laki-laki (gw malas menggunakan kata ‘pangeran’) yang
kaya, tampan, baik hati, ramah, sopan yang akan meminang seorang gadis lugu,
ceria, dan naïf? Is life that simple? Gw memilih untuk menenangkan diri dan
berkata, calm down, it was just a film…

Daripada bengong, gw
memilih keluar kos, cari makan, udah waktunya buka puasa… Begitu buka pager, gw
langsung berhadapan dengan tukang sate padang yang lagi bengong karena gak ada
yang beli… Tiba-tiba gw berpikir, “Hey, that’s real life!”

Ya! Itu baru namanya
kenyataan… Suasana kober yang masih ramai walaupun udah jam 8 malam… Kang Arie
tukang DVD spesialis bajakan original yang sibuk menjelaskan sinopsis film2nya…
Mbak2 warteg yang bête karena lauknya udah hampir habis tapi belum waktunya
tutup… Gw yang kehabisan uang dan kelaparan.. Well, that’s real life!

Jadi, jangan sebel
kalau apa yang terjadi dalam kenyataan ternyata gak seindah yang di
pelem-pelem. Karena sesungguhnya keindahan sejati itu adalah ketiadaan di dunia,
dan kekekalan di saat yang sudah dijanjikan itu…

Akh… Gw menampar diri
gw sendiri karena tadi sempat kesal karena film “Gigi” itu… Sekarang ada sebuah
lagu yang terngiang-ngiang di kepala gw.. Here it goes…

Have you lost your
way? Do you think you’re getting back again?
It’s a mystery, that through a death I found my life again…
So here we are, flesh and bone and spirit lifted up…

So I’m starting it up,
and I filled up my cup, I’m lost in Your love, and it’s more than a memory
And I’m starting again what I thought was the end, is another beginning from
here to eternity
I’ll sing… Halelujah… Halelujah… Halelujah… Halelujah!

^_^

wonderful birthday!

January 14th, 2007 by unique777wildsista

15.01.07

09:34

First, i wanna say, happy  birthday to myself…

Hari yang diawali dengan indah… Gw dapet mimpi yang indah banget dari Tuhan sebagai kado ultah… Mimpi dimana gw gak ingin bangun… Pernah gak ngalami hal itu?

Di mimpi itu gw bertemu dengan sosok yang sangat gw rindukan, tapi gak mungkin gw temui… Di mimpi itu, dia bilang dia mau nganter gw, anter kemana ya?

Gw kangen banget sama dia, kadang2 sampe perut gw sakit. Aneh kan, kangen sama orang sampe bikin perut mules. But, that’s enough for me, bisa ketemu dia, walaupun hanya lewat alam bawah sadar gw…

Kemarin malam, sebelum tidur, gw berdoa, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan selama 20 tahun hidup gw. Luar biasa kesetiaanNya, hati gw gak akan henti2nya kagum dan heran akan hal itu. Ada satu lagu yang menggambarkan perasaan gw saat ini.. (ohya, fyi, dinyanyikan sama paul colman trio)

I can’t believe that You still wants me after everything I’ve done

I can’t believe that You still wants me to be with You

I was sure that You would leave me with the mess that I had made

I was sure that You would take away Your love…

You’re the only one who loves me just the way I am

You’re the only one who loves me so perfectly

even when I told You never call on me again

even when I called Your love a lie…

But I was wrong cos You’re still here

and Your love carries all my fear

There’s nothing I can say, there’s nothing I can do

to make You love me more…

Wow, He’s so beautiful, isn’t He? Di ulang tahun gw ini, ada satu hal yang akan terus gw cari dan gw doakan.. Sebuah visi…kemana hidup gw akan gw bawa. Gw gak mau mendasarkan hidup hanya di atas ekpektasi sosial atau tren sosial semata. Gw mau tahu apa yang menjadi panggilan gw, atas kondisi orang2 di sekitar gw. Semua profesi berkenan di mata Tuhan, asalkan gw benar2 mendasarkan setiap pekerjaan gw di atas kehendak Tuhan.

Gw percaya Tuhan sudah menyiapkan yang terbaik buat gw…studi gw, kesehatan orang tua gw, pekerjaan gw, pelayanan gw, pendidikan adik gw, sampai pasangan hidup gw… Gak ada alasan untuk khawatir karena semua ada di tangan yang terhebat. I love You, God!!! Muaaach…

God bless u all, guys!!

Lagu buat seseorang yang gw sayangi…(walaupun telah menyakiti hati gw dengan menganggap mangga kiriman gw sebagai sebuah misi politik)

I’m a big big girl in a big big world

It’s not a big big thing if u leave me

but I do feel, I will miss u much…

^_^

<E.R. Kartika Sari tr. Gagatan>

Kisah Sang Pewaris Trah

January 4th, 2007 by unique777wildsista

Holla!!!

Kembali ke Depok (akhirnya…) walau jiwa dan raga ini menolak… Depok masih sama sperti ketika gw tinggalkan… Masih panas, kering dan tiba2 hujan… EQ Swara masih bertengger dengan pose andalannya, menyambut setiap orang yang berkunjung ke Depok… (Pa kabar, Bang EQ? Makin ganteng aja nih…)

Liburan membawa banyak berkah buat gw… Mulai dari kondisi keluarga besar gw yang perlahan-lahan diubahkan oleh Tuhan dengan urapan yang besar… Lalu wejangan-wejangan ala Mbah Kusno yang semakin mengikat kaki gw, membuat gw makin gak bisa melarikan diri dari keluarga ini… "Kamu dulu sudah berani ngibarke sampur…Itu artinya sekarang kamu harus berani melangkah di depan… Jadi teladan buat adek2mu… Mbah sangat berharap sama kamu karena Mbah lihat kamu punya prinsip yang tegas dan kuat…" Wadoh, ampun, Mbah!!!

Memang adalah sebuah kebanggaan punya keluarga seperti keluarga gw itu… Gw kagum sama nenek moyang gw–para pendiri Trah Gagatan–mereka yang berjiwa perwira, para bangsawan non aristokrat. Secara turun-temurun, mereka menjunjung tinggi harga diri dan kejujuran… Wow, jaman sekarang, mahal harganya yang harus dibayar untuk mempertahankan itu, Mbah! Tapi, itu identitas gw.. Identitas yang selalu gw banggakan, menjadi bagian dari cewe2 tough di keluarga gw…

(sbentar…saya mendadak jadi emosional…terharu…)

Oi, senangnya..IP uda keluar… Puji Tuhan… Praise the Lord! Tuhan baik, smua baik… Terbukti benar kalau kita mau menyandarkan setiap pekerjaan kita pada Tuhan, maka Ia yang setia akan membentuk sesuai rancangannya yang indah… Dan rancangan yang indah itu kini sedang bekerja di dalam gw… I’m so proud to have U Lord!

So, never say no to what He wants u to do… ^_^

I say, YES, Lord, I will love U for rest of my days!!!

Tertanda,

E.R. Kartika Sari tr.Gagatan

think n be blank

December 20th, 2006 by unique777wildsista

berpikir kosong…

begitulah kira2 tema tulisan gw hari ini…hehehe..

Jadi gini, kemaren, di tengah2 perut yang kekenyangan, gw mengajukan pertanyaan bodoh pada diri gw sendiri… pertanyaan yang sering dilontarkan saat loe lagi gak mau mikir…

Kalo loe punya 100juta untuk loe habiskan hari ini, apa yang akan loe lakukan?

inilah kira2 jawaban spontan gw:

1. pergi ke gramedia n menimbun diri gw dengan buku-buku…huahahaha….

2. ke salon, hair spa strawberry…hmmmm, yummy!

3. beli sendal, sepatu, n tas..warna disesuaikan dengan baju yang gw punya…

4. beli selang air yang mantep terus beli tiket pesawat PP Jakarta-Surabaya buat nyemprot mantan gw n cewenya…hehehe… katarsis nih ceritanya… (kalo basah, lebih enak kan, boy!)

5. melunasi biaya pendidikan Nuel & Pinus sampe SMA (kalo bisa ampe kuliah, asal mereka gak kuliah di Prancis aja..) biar mereka gak usah jualan koran lagi…

Tapi…ada tapinya nih, gw gak dilahirkan untuk menghabiskan 100juta dalam sehari. Tuhan menempatkan gw untuk berada di salah satu negara Dunia Ketiga (ada yang tau gak kenapa disebut "Ketiga"?) yang katanya miskin dan terbelakang ini sehingga gw gak pernah menerima 100juta cash di tangan gw…

Ini bukan sebuah kesedihan…Gw bahagia jadi warga Dunia Ketiga…kalo gak, gw gak akan ngerasain hidup susah, ngeliat orang susah, ngeliat warga Dunia Pertama yang hidup enak… Gw mungkin akan punya otak dan perilaku kayak Paris Hilton…dan hal itu sama sekali BUKAN kebanggaan buat gw…

Dalam jurnal, gw pernah nulis, bersyukur Tuhan kasih orang miskin di dunia ini..karena orang miskin yang mengajarkan kita tentang kebaikan dan arti setiap hal terkecil dalam kehidupan… Arti sampah yang tiap hari kita buang…

Thanks, God… Seperti judul posting-an gw sebelumnya..Semua baik…Semua baik… Terima kasih, Tuhan, untuk otak yang masih bisa berpikir ini…walaupun dalam keadaan kosong sekalipun..

berpikir kosong, tapi bukan dengan otak kosong…

^_^

smua baik…smua baik…

December 1st, 2006 by unique777wildsista

1 Des 06

Oh, God…Baru kali ini gw ngerjain tugas sambil nangis…

mengapa ini harus terjadi pada gw? kenapa migren harus datang ketika tugas2 menumpuk dan smua orang memaksa untuk mengerjakan..

Hiks2…sakit banget tauk! dunia serasa bukan milik gw lagi..melayang2 gak jelas, mau jatuh..

terus ada AKK minta ditelpon…Pas beli pulsa, eh operatornya eror..

Huhuhu…tambah nangis deh…

kenapa sih gw jadi mellow begini?

Tuhan, tolong hambamu yang malang ini..

I’m emotionally attack..

mayday, mayday, help..

(mama beliin tiket ke jogja tgl 22, what should i do, God? Huhuhu…)

tema hari ini: jenuh…

November 20th, 2006 by unique777wildsista

maaf ku jenuh padamu…lama sudah ku pendam..tertahan di bibirku..
mauku tak menyakiti..meski terasa indah…ku masih tetap saja..jenuh…

Maafkan aku, hidup, aku sedang jenuh…
dan kecewa karena warnet "Indonad" tak kunjung buka..
mengapa, oh, mengapa?
mungkin ini akhir perjumpaan mata antara diriku dengan dirinya…
dan pasword: Bible study tidak akan lagi ada gunanya..
jenuh…

life goes on

June 29th, 2005 by unique777wildsista

whoaaa…this is my first blog…what should i write about?my life? okay, here i am…hari2 ini berjalan sangat statis,yah sebetulnya gak bisa dibilang gitu juga sih,namanya juga manusia, ya khan,cum? tapi,gw bener2 boring dgn hidup gw…kenapa sih gw harus menghabiskan waktu 3 bulan liburan tanpa berbuat apapun selain dengerin radio, nonton ceriwis, telenovela, dengerin walkman, ke warnet, makan, tidur, and so on…kayaknya gak menggairahkan…ayolah, adakah yang bersedia membuat hidup gw lebih bergairah…hehehe…

damn, harusnya liburan ini gw bisa lebih produktif…nulis cerita or making money…money…money…hiks2,somebody…help me…